28 february 2008
Hari ini aku lelah sekali. Begitu banyak hal yang aku ingin lakukan, tapi aku selalu merasa kekurangan waktu. Menurut buku yang aku baca, katanya dalam kondisi seperti ini, pakailah prinsip “First Thing First”, skala prioritas. Aku punya 3 project proposal dari kantor yang harus diselesaikan malam ini juga. Hari ini tidaklah terlalu menggembirakan. Banyak deadline, banyak kabar yang ga terlalu baik, banyak target yang harus dicapai. Kepalaku penat.
Ketika aku cek PDA-ku, ternyata aku ada janji dengan dokter gigi langgananku. Oh iya, hari ini Kamis, dan ada 1 gigi yang aku harus kontrol.AKu mengintip lewat jendela. Hujan sudah berhenti dan jalanan sudah mulai lowong. waktu itu pukul 20:30.
Aku melangkah ringan ke parkiran. Begitu sampai dokter gigi, antriannya panjang bow. aku sampe parkir di pinggir jalan, ga ada tempat lagi di halaman. Ternyata aku masih harus menunggu kurang lebih 1 jam lagi karena ada 2 orang lain yang masih menunggu antrian juga. Aduh, kupikir mendingan cari makanan buat isi perut. udara dingin..hmm, bubur kacang ijo enak kali yaa…
Di depan parkiran ada beberapa tenda jualan makanan. Aku menghampiri satu tenda yang jual bubur kacang ijo. Bapak yang jualan sudah sangat tua ternyata. Keriput di wajahnya tergambar jelas. Kutaksir-taksir dia berumur sekitar 65an. atau mungkin lebih muda, tapi wajahnya tak bisa dipungkiri, dimakan usia. Mungkin beban hidup yang berat…atau perkara yang lain..aku tidak tahu.
Aku : “Pak, bubur kacang ijo 1 ya”
Bapak : “pake roti, mbak?”
AKu : “oh ga usah pak. pake susu aja.”
Kuperhatikan baik-baik semua gerakan si bapak. Tangannya yang kurus tampak gemetar saat menuangkan bubur kacang ke dalam mangkuk. Sebersit rasa iba menyeruak relung hatiku…tuntutan hidup. Idealnya bagiku,bapak ini mustinya di usia senja seperti ini tinggal di rumah, ditemani anaknya, bermain-main dengan cucunya, tak perlu membanting tulang sampai larut malam begini. Tapi kadang kenyataan kadang berkata lain.
Pesananku pun datang. Aku mulai menikmati setiap butir bubur di depanku. Slurrpp, rasanya enak…mungkin karena aku lagi lapar berat. beberapa pembeli yang lain mulai berdatangan dan memesan pula. 10 menit kemudian, mangkukku sudah kosong. Aku bersiap membayar.
Aku : “Pak, berapa harganya?”
Sang bapak menjawab “tiga ribu saja, mbak. tapi uangnya jangan gede-gede ya. Takut ga ada kembalian” . Mungkin karena melihat dresscode ku hari itu, baju kerja, tas kerja, sepatu kerja, dia pikir aku ga punya uang kecil. Suaranya lemah dan agak gemetaran.
Kubuka dompetku dan kuambil 1 lembar uang duapuluh ribu. Kusodorkan dengan sopan kepada si bapak “Pak, kembaliannya ga usah ya. Buat Bapak aja” kataku sambil tersenyum.
Di luar dugaanku, sang bapak terbelalak terkejut. Sambil terbungkuk-bungkuk, beliau mengucapkan terima kasih kepadaku sambil mencium uang 20ribuan itu. Wajahnya dipenuhi rasa haru dan syukur yang sangat mendalam.
Aku meninggalkan warung si bapak dengan sebuah perasaan yang sukar untuk diungkapkan…ada rasa haru, iba, bahagia, bercampur aduk melihat raut kebahagiaan di wajahnya. Uang 20rb buat sebagian besar orang mungkin tidak banyak berarti. Bahkan makan siangku pun kadang-kadang bisa 2x lipat (kalau lagi bulan muda tentunya). Dan sebelum berangkat ke dokter gigi, aku sempat membeli 4 keping CD film box office (aku hobi nonton movie), seharga 28 ribu. Paling aku tonton sekali, setelah itu masuk ke kotak koleksi CD-ku. Tapi uang segitu buat sang bapak mungkin bisa menghidupi keluarganya barang 2 hari atau bahkan lebih.
Aku pulang dengan rasa bahagia…Rasa penatku hilang seketika. Lupa sudah kemumetan atas 3 proposal yang baru setengah jadi dan kabar-kabar tak enak yang hari ini sempat membuat hatiku kelabu…
The secret of true happiness is to share joy with other people..
February 29, 2008 at 10:16 am |
Hi, tin..wow..bener bener kayak diary nihh..hehe..gud job..’met blogging ya…ntar gue link dehh…
March 26, 2008 at 10:54 am |
mmmm…gud
btw nama g Yudi Arianto bukan Yudi Permana
November 8, 2008 at 9:09 am |
“The secret of true happiness is to share joy with other people.. . ”
so, dalem banget tuh kalimat diatas, lebih bermakna dari pahala dan dosa . . . . .
buat cristine, salut deh ama lo, gue baca semua tulisan di blog ini, so attractive euy…
salam dari Lagos