10 menit bersama Andrea Hirata
Jika Arai mengaji, pikiranku lekat pada anak kecil yang mengapit karung kecampang, berbaju seperti perca dengan kancing tak lengkap,berdiri sendirian di muka tangga gubuknya, cemas menunggu harapan menjemputnya. Jika Arai mengaji, aku bergegas menuruni tangga rumah panggung kami, kemudian berlari sekuat tenaga menerabas ilalang menuju lapangan di tepi kampung. Di tengah lapangan itu aku berteriak sejadi-jadinya.
Ratap lirihnya mengirisku, menyeretku ke sebuah gubuk di tengah ladang tebu. Setiap lekukan tajwid yang dilantunkan hati muda itu adalah akut kerinduan yang tak tertanggungkan pada ayah-ibunya. (Sang Pemimpi, Andrea Hirata).
Kalimat-kalimat di atas adalah kutipan dari halaman 33 buku Sang Pemimpi, salah satu buku dari Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang sudah kubaca berulang kali. Dan setiap kali kubaca, tak pernah kuasa ku membendung air mata haru jatuh dari pelupuk mataku, bahkan pernah sampai terisak-isak dan sedikit menggerung, karena jelas terpatri dalam pikiranku, bayangan akan kampung halaman sang penulis buku, Belitung.
Aku memang hobi membaca buku, terutama buku-buku kesusastraan, motivational dan petualangan. Dari sekian banyak buku yang aku koleksi, ada 3 yang terakhir ini begitu menginspirasi aku. Buku-buku tersebut adalah tetralogi yang berjudul Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan yang akan terbit sebentar lagi adalah Maryamah Karpov. Buku-buku ini berhasil mencuri hatiku, menggantikan hobiku yang lain, yaitu tidur, memaksa air mataku mengucur deras tak terbendung, membangkitkan getar-getar kenangan akan kampung halaman ku, dan yang paling penting dari semuanya adalah membuatku begitu tergugah dan terinspirasi sehingga merasa sangat berdosa ketika aku kurang mensyukuri hidup. Pengarang yang luar biasa itu bernama ANDREA HIRATA. Tidak ada pengarang lain yang lebih membuat aku merasa begitu ingin bertemu selain dia. Bahkan JK Rowling yang begitu terkenal pun rasanya masih kalah memenangkan hatiku dibandingkan pengarang yang satu ini. kenapa? Awalnya aku tidak tahu. Tapi setelah membaca ketiga bukunya, aku menemukan jawaban mengapa aku begitu ingin bertemu dan menghabiskan sedikit waktu untuk mendapatkan inspirasi darinya. Jawabannya adalah karena aku menemukan beberapa kesamaan dalam impian masa kecil kami, ditambah lagi kami berasal dari Propinsi yang sama, yaitu Bangka Belitung…ikatan tak langsung inilah yang membuat keinginanku untuk bertemu dengan Andrea begitu menggebu-gebu.
Andrea Hirata berasal dari Belitung. Aku berasal dari Bangka. Bangka Belitung sekarang telah menjadi sebuah provinsi sendiri setelah lepas dari Sumatera Selatan. Inilah ikatan secara geografis itu. Andrea kecil memiliki impian untuk menggapai ilmu setinggi-tingginya, menjelajahi Eropa dan Afrika. Akhirnya ia berhasil mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia. Bagi anak daerah seperti kami, duduk di bangku kuliah di Universitas Indonesia, kampus yang menyandang nama bangsa itu, adalah sangat membanggakan. Karena tidak gampang untuk bisa lulus UMPTN dan menjadi bagian dari Jaket Kuning (begitulah kami memanggil almamater kami). Akupun berhasil mendapat kursi di kampus yang diidam-idamkan banyak orang ini (dengan berjuang keras tentunya) dan masuk di Angkatan ’98. Demikian kesamaan kami yang kedua. Dari bukunya, kita akan tahu bahwa Andrea akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di Université de Sorbonne, Paris, Prancis. Mengunjungi negara ini pun adalah salah satu dari impianku. Aku sangat terobsesi dengan Prancis (waktu itu karena Piala Dunia 1998 diselenggarakan di Prancis dan di mataku Prancis begitu menggiurkan. Aku juga pencinta nonton sepakbola pada waktu masih sekolah). Dan jadilah terpatri di dalam hatiku, impian untuk bisa menjejakkan kaki di tanah yang terkenal dengan menara Eiffel-nya itu, begitu menggebu-gebu. Terutama juga impian untuk mengunjungi Sorbonne, Universitas yang mencetak begitu banyak orang pintar yang nama-nama mereka terukir di buku-buku sejarah yang aku baca.
Di tahun 2001, aku berhasil mendapatkan beasiswa untuk pertemuan pelajar-pelajar penutur bahasa Prancis seluruh dunia dan untuk pertama kalinya berhasil menginjakkan kaki di Negara yang aku impi-impikankan itu, juga berkesempatan mengunjungi Sorbonne yang sudah begitu lama menawan hatiku.
Tapi Bang Andrea jauh lebih beruntung. Beliau bisa mengenyam pendidikan S2 di sana, sementara aku cuma punya waktu 1 bulan untuk menikmati negara yang luar biasa dan masih sangat aku rindukan sampai sekarang . Tapi tak apalah…rasa syukur itu penting sekali untuk lebih menikmati hidup ini.
Pada tanggal 18 April 2008, diadakanlah acara Kick Andy off air oleh Metro TV di Universitas Indonesia dan book signing (penandatanganan buku) Laskar Pelangi oleh pengarang idolaku, Andrea Hirata. Dari seminggu sebelumnya, aku sudah mendaftar dan mengosongkan agendaku demi untuk menghadiri event tersebut dan berharap untuk bisa bertemu dengan Bang Andrea, bercakap-cakap barang sebentar saja dan tentu saja, minta tandatangan beliau di atas buku-buku karangannya yang aku koleksi.
Akhirnya tibalah hari itu. Aku bela-belain menempuh perjalanan jauh, sekalian nostalgia lagi ke kampus UI yang telah mendidikku. Sesampai di sana, ribuan mahasiswa sudah mengantri untuk masuk ke balairung tempat diadakannya off air event tersebut. Dengan berbekal undangan dan kartu pers (aku kerja di JAK-TV), tim Metro TV mengizinkan aku masuk lewat pintu VIP yang berarti aku bisa menghindari antrian super duper panjang (aduh leganya, thanks to my profession). Acara berlangsung selama lebih dari 2 jam. Seru sekali dan aku berhasil melihat pengarang idola aku dari jarak 2 meter. Lumayanlah. Setelah acara selesai, aku berniat untuk minta crew metro TV mempertemukan aku dengan Bang Andrea, pengen ketemu sekalian menjajaki kemungkinan untuk JAk-TV bisa mewawancarai Bang Andrea, terutama untuk pembuatan film layar lebar Laskar Pelangi yang sedang digarap oleh Sutradara Riri Riza dan Mira Lesmana.
Ternyata setelah off air selesai, Andrea langsung diamankan karena takut dia “tergilas” oleh crowd yang begitu luar biasa dan mahasiswa-mahasiswa yang gencar mengejar beliau untuk foto dan tandatangan. Demi bertemu dengan Andrea, akhirnya aku pergi ke Gramedia Depok tempat diadakannya book signing. Waduuuh, pengunjung yang minta tandatangan pun berjubel-jubel. Lali aku minta salah satu pegawai toko buku Gramedia untuk memperkenalkan aku deengan EO atau manajernya Andrea. Singkat kata singkat cerita, setelah melalui proses yang cukup ribet sebenarnya, akhirnya datanglah seorang wanita yang ternyata adalah dari penerbit buku Laskar pelangi. Setelah ngobrol-ngobrol, beliau berjanji untuk menyediakan waktu khusus buat aku setelah acara book signing selesai. Jadi aku tidak perlu gencet-gencetan dengan ratusan pengunjung lain untuk minta tanda tangan.
Setelah kurang lebih 1.5 jam, selesailah acara itu dan Andrea Hirata dan Andy F Noya (bang Andy ikut juga karena ada penandatanganan buku Kick Andy kumpulan kisah inspiratif) beserta rombongan segera diamankan oleh sekuriti menuju ke ruang VIP. Berkat bantuan manajernya Andrea, aku berhasil ikut rombongan itu dan inilah dia …. 10 menit bersama Andrea Hirata.
Aku bercakap-cakap dengan Bang Andrea ( seperti mimpi rasanya), sedikit tentang kami yang berasal dari Bangka Belitung, sedikit tentang Université de Sorbonne, sedikit tentang beberapa tokoh yang ada di Tetralogi Laskar Pelangi, sedikit tentang pekerjaan Bang Andrea sekarang, sedikit tentang film yang akan segera dibuat dalam waktu dekat, sedikit tentang rencana kuliah S3 dia nanti. Semuanya serba sedikit, tapi 10 menit itu sangat berarti. aku sangat bahagia karena belajar banyak dari beliau. Bang Andrea yang sudah menjadi milyuner itu tetaplah sosok yang sederhana, low profile, tidak ada sedikitpun unsur “tinggi” dari setiap tutur kata, cerita maupun sikapnya. Bang Andrea kelihatan capek (tidak bisa disembunyikan, mungkin karena road show yang begitu padat jadwalnya) tapi tetap ramah dan murah senyum.
Bang…you’re such inspiring…you started with a little simple boy with great dreams…and you have made it now….you really have made it…. I’m so proud of you..thanks for the inspiration.
“Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara : Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar science, sastra dan seni hingga mengubah peradaban..” (Sang pemimpi, Andrea Hirata)
