Archive for July, 2008

NBA Games Macau..A walk to remember

July 23, 2008

NBA season 2007-2008, a wonderful trip that has produced wonderful experience, friends and excitements…a walk to remember…

Bersama 3 crew dan 3 orang tamu undangan, kami dikirim ke Macau untuk membuat magazine show tentang pertandingan Basket NBA Preseason Games.

Tanggal 16 Oktober malam tepat pukul 00:30 lepas landas dari bandara Internasional Soekarno Hatta langsung menuju Macau dengan pesawat baru Viva Macau Airlines. Perjalanan memakan waktu 4-5 jam. Kami tiba dini hari pukul 06:30. Menjelang pukul 5 pagi, semburat merah mentari pagi yang sebentar lagi muncul begitu memukau.

Tepat di sebelahku karena aku duduk persis di samping jendela pesawat. Aku terperangah kagum akan keindahan semesta dan keajaiban penciptanya. Kuabadikan detik-detik yang jarang dapat kunikmati ini. Setiap menit nampak perubahan yang signifikan di langit. saat itu aku berpkir, berbahagialah mereka yang berprofesi sebagai pilot dan pramugari karena dapat menikmati momen luar biasa ini lebih sering daripada aku.


Tepat pukul 06:30 kami mendarat. Bienvenue…Suasana portugis sangat terasa sejak menjejakkan kaki di bandara. Semua signage dalam dua bahasa : Chinese dan Portugese. Negara yang eksotis menurutku karena begitu berbeda. Kecil, bersih, menarik, tidak macet, tidak berpolusi. 3 jembatan besar dan panjang membelah kota, menghubungkan satu sisi pulau dengan pulau lain. Di siang hari tidak terlalu luar biasa, tapi ketika malam menjelang, aku berdecak kagum. Lampu-lampu mulai dinyalakan dan di setiap sudut kota terang benderang. Setiap beberapa meter ada kasino..uugh.. Masyarakat di sini mata pencahariannya kalo tidak kerja di imigrasi, ya di kasino, berdagang atau menjadi tour guide…luar biasa…Kota yang tidak pernah mati. Lepas jam 24 tengah malam, toko-toko emas atau berlian masih tetap buka. Kabarnya pedagang barang berharga ini tetap buka untuk mengantisipasi para gambler yang mau menjual emas atau berliannya untuk keperluan berjudi…hmmm…eksotis…menurutku..


Sarapan pertama di Macau penuh dengan keribetan. Alasan klasik…kendala bahasa hehe…AKu memang keturunan Chinese, tapi tak berarti aku menguasai bahasa Chinese dengan baik. Bahasa Prancisku malah jauh lebih baik daripada bahasa Chineseku…Untunglah bahasa Inggris efektif di sini. Tak kusesali belajar bahasa Prancis, Italia dan Spanyol di kampus dulu karena Macau Negara bekas jajahan portugis yang bahasanya sedikit banyak mirip bahasa Spanyol, maka petunjuk-petunjuk jalan bisa kumengerti.


Di hari pertama kami bertolak ke Hongkong. Naik ferry, hanya seratusan hongkong dolar. Lumayan pikirku. Nanti kalau mau wisata ke Hongkong lagi, kusarankan lewat Macau saja. Dengan budget hampir sama, bisa mengunjungi 2 negara sekaligus. Hotel di Macau juga lebih murah daripada di Hongkong. Demikian pula makanan. Jadi tidak rugi kalo lewat Macau saja. Akhirnya jadi juga aku ke Hongkong setelah menyimpan impian hampir setahun lamanya untuk mengunjungi paman dan bibiku yang sudah menjadi warga Negara sana.


Malam hari kami menyeberang lagi ke Macau. Keesokan hari berangkat ke Zhuhai, wisata belanja, wisata sejarah dan wisata kuliner setengah hari lalu kembali ke Macau lagi karena game NBA dimulai menjelang malam. Game akan berlangsung di Venetian Arena. DiVenetian Arena ini ada sebuah lapangan basket besar yang menjadi bagian dari Venetian Hotel. AKu takjub untuk pertama kalinya melihat hotel yang demikian LUAAAARRR BIASAAAA…Besar sekali sampai-sampai kami nyasar di dalamnya. Ada lebih dari seribu kamar mewah, interiornya lekat dengan arsitektur zaman Romawi (kalau tidak salah), ada gondola di tengah hotel, kanal-kanal yang dibuat menyerupai Negara aslinya Italia, dengan kano-kano yang disewakan, sambil ditemani lantunan musik opera yang mengalun dari instrument khas yang sering aku tonton di film-film Eropa …luar biasa indah….


Yang lebih mengharukan bagiku adalah melihat pemain basket idolaku langsung dari pinggir lapangan. Dwight Howard menjulang di tengah lapangan.

Aku duduk bersama-sama tim kami di row M dan sangat menikmati mengeprakkan instrument dari LENOVO yang kami pakai untuk memeriahkan acara dan menambah riuh suasana di lapangan. Ribuan orang berbondong-bondong ikut nonton dan mendukung tim nasional China. AKu sampai geleng-geleng kepala melihat antusiasme beberapa kakek nenek yang ikut menonton. Rasa nasionalisme telah membuat mereka lupa sejenak akan usia yang tak lagi muda…sekali lagi luar biasa..


Pertandingan usai dan kami menikmati berfoto-foto di lapangan basket, di setiap sudut hotel yang lekat dengan sentuhan kemewahan, di kasino Venetian yang luasnya ga bisa kukira-kira lagi, ratusan mesin-mesin judi yang aku sendiri bingung bagaimana mainnya, ratusan meja yang dikelilingi orang-orang yang sedang berjudi…dan masih banyak lagi … terlalu banyak untuk bisa ditulis di sini…


Hari berikutnya mengunjungi Shenzen…Window of the World…. Mengunjungi tempat ini sama dengan berkeliling dunia. Semua replika icon Negara-negara di seluruh dunia ada di sini, dalam bentuk lebih mini tentunya. Tak bisa kubayangkan bagaimana pemerintah China bernegosiasi dengan pemerintah setiap Negara di dunia untuk membuat replika ciri khas Negara masing-masing. AKu berfoto di hampir semua miniatur… di depan Eiffel pastinya yang pernah kukunjungi aslinya di Prancis sana 7 tahun silam, di depan tembok Cina, Kota terlarang, rumah opera, Spinx, Merlion, dll.. menonton teater 4 D di Jepang, menonton tarian-tarian masyarakat Chinese yang begitu memukau, bergaya di bawah 1000 lampion merah, meluncur di atas es dan menikmati dinginnya salju di Swiss, dll…sungguh pengalaman tak terlupakan..


Pertandingan game ke-2 berlangsung lagi keesokan harinya….dan di hari terakhir syuting dengan Macau Government Tourism Office (MGTO) yang sangat helpful… Lunch di ketinggian 147 (lupa persisnya) lantai di Macau Tower…interview Filipa, wanita Portugis yang banyak membantu untuk perjalanan ini berlangsung.. Sore harinya aku melanjutkan perjalanan sendirian ke Hongkong. AKu ambil cuti 2 hari untuk mengunjungi keluargaku di sana…sementara timku yang lain kembali ke Jakarta….

Macau…until we meet again… I am missing you….

Weekend bersama Natur E dan Nadya Hutagalung

July 2, 2008

Perjalanan yang indah ini pada mulanya berawal dari sebuah impian. Pada kunjunganku ke Bali di awal Juni yang lalu dalam rangka seminar Media se-Asia Pasifik, aku terbangun di suatu pagi karena sebuah acara televisi yang menarik perhatianku di sebuah stasiun TV local di Bali. Ada acara yoga di situ. Sebagai seorang pecinta yoga yang selalu rutin kupraktekkan tiap hari, acara ini sukses memelekkan mataku yang terkantuk-kantuk. Dalam hati, aku membisikkan sebuah impian, “Tuhan, aku ingin melakukan yoga di tepi sebuah pantai atau sebuah kolam renang atau di atas hamparan rumput hijau di Bali suatu hari nanti di mana aku bisa merasakan kesejahteraan pikiran dan batin yang menenangkan.”

Impian yang sederhana memang. Tapi tidak terlalu susah bagi Tuhan untuk bisa mewujudkannya. Beberapa hari kemudian, aku mendapat telpon dari teman lamaku. “Cristine, kita memenangkan lomba menulis Natur E dan akan dikirim ke Bali untuk syuting bersama Nadya Hutagalung”. Aku tertegun. “what???” kapan nulisnya? Ternyata temanku diam-diam mengirimkan tulisannya yang berisi tentang aku dan sebagai hadiahnya kita berdua bersama 24 pasang pemenang lainnya se-Nusantara berhak mendapatkan hadiah jalan-jalan ke Bali. Sebuah kebetulan yang tidak perlu dipertanyakan kenapa bisa terjadi karena aku percaya pada kekuatan Law of Attraction, the Secret dan Quantum Ikhlas yang secara fisika akan mampu menjawabnya. Bagi teman-teman yang belum pernah membaca ketiga buku tersebut, perlu kuinformasikan bahwa buku-buku tersebut adalah best seller dan merupakan beberapa dari buku-buku favoritku. Dan di sinilah petualangan itu dimulai.

Perjalanan memang tidak terlalu mulus di awal karena kami sempat stuck selama total hampir 7 jam di bandara Soekarno Hatta dan Jogja (pesawat transit di Jogja). Bertemu dengan 1 pasang pemenang lainnya dari Jakarta, kami mulai akrab karena kami berempat punya persamaan sifat “ tukang ngoceh” sehingga akrablah gank ini dalam waktu kurang dari 1 jam. Kami habiskan waktu di bandara dengan uring-uringan. Istilah kami, sudah mati gaya mau ngapain lagi. Mulai dari lunch dan istirahat di Lounge, sampai narsis-narsisan gaya di depan kamera pocket, trus becanda ga karuan, ngomentarin hal-hal yang ga penting, dan masih banyak lagi.

Singkat cerita, sore sebelum sunset, kami tiba di Bali. Menginap di Hardrock Hotel Bali dan ketika tiba, masih ada sisa setengah jam sebelum matahari masuk ke peraduan. Kami langsung ganti kostum dan setengah berlari, langsung membawa kamera menuju Pantai Kuta. Mengagumi keindahan Tuhan lewat semburat merah yang perlahan-lahan masuk dengan malu-malu di balik awan dan langit Bali.

AKtivitas mulai padat dari pagi jam 6. Kami melakukan yoga tepat di tepi kolam renang di atas Sand Island Hardrock Hotel Bali, dihibur oleh riak air kolam dan ditemani musik yoga yang mengalun tenang. Persis tepat seperti gambaran bayanganku 2 minggu lalu ketika membisikkan impian untuk dapat melakukan yoga di tepi sebuah kolam renang atau hamparan rumput hijau di Bali dalam hati. Sekali lagi Tuhan sungguh hebat. Ketika melakukan meditasi di akhir sesi yoga tersebut, aku menghirup nafas dalam-dalam, bersyukur kepada Sang Pencipta yang telah membawaku ke sini, tepat seperti apa yang aku inginkan. Kubisikkan ucapan terima kasihku dalam hati dan kunikmati ketenangan yang melingkupi seluruh pikiran dan batinku.

Aku begitu menikmati yoga ini selama 2 hari berturut-turut dan tidak percuma rasanya punya hobi yang menyehatkan raga. Karena ternyata panitia memberikan hadiah kepada peserta yoga yang paling lentur gerakannya. Dan aku memenangkan kategori ini. Jadilah aku difoto bersama Nadya Hutagalung dan fotonya dicetak 10R, ditandatangani sang bintang jelita dan dibingkai dalam pigura nan indah menawan. Foto berpigura itu terpajang anggun di atas meja riasku.

Hari-hari kami sangat menyenangkan. Wanita-wanita Indonesia ternyata sangat luar biasa. Di malam gala dinner ketika semua pasangan yang berbalut gaun malam berwarna hijau harus menunjukkan kebolehan mereka di atas panggung yang sudah diset dengan demikian anggun, aku menyadari bahwa hidup ini memang sebuah panggung pertunjukan. Panggung itu milik kita dan kitalah yang melakoninya. Akan menjadi seperti apa lakon itu, sangat tergantung pada diri kita. Mas Alexander Sriwiyono berpesan di sesi siang dalam kelas pengembangan kepribadian, bahwa the stage is ours and after that night, the stage is not over yet… Our life is the real stage…Malam yang mengesankan… Hampir tidak dipercaya, ketika orang yang tampaknya biasa-biasa saja, ketika berada di atas panggung dan memainkan lakonnya, mereka semua menjadi begitu luar biasa., memiliki kepercayaan diri yang tinggi meskipun saya tahu semua orang deg-degan ketika menjejakkan langkah pertama di atas panggung. Tapi ketika kita semua menjadi apa adanya kita, semua mengalir dan mengalir dan jadilah satu karya yang begitu memukau. Indah karena begitu orisinil dan tidak ada satupun orang yang bisa menyamainya.

Petualangan berakhir dengan kembalinya semua peserta ke kota mereka masing-masing setelah menghabiskan waktu bersama 4 hari 3 malam yang berarti adalah dimulainya kembali episode baru dalam kehidupan nyata kami.