Weekend bersama Natur E dan Nadya Hutagalung

By cristineliman

Perjalanan yang indah ini pada mulanya berawal dari sebuah impian. Pada kunjunganku ke Bali di awal Juni yang lalu dalam rangka seminar Media se-Asia Pasifik, aku terbangun di suatu pagi karena sebuah acara televisi yang menarik perhatianku di sebuah stasiun TV local di Bali. Ada acara yoga di situ. Sebagai seorang pecinta yoga yang selalu rutin kupraktekkan tiap hari, acara ini sukses memelekkan mataku yang terkantuk-kantuk. Dalam hati, aku membisikkan sebuah impian, “Tuhan, aku ingin melakukan yoga di tepi sebuah pantai atau sebuah kolam renang atau di atas hamparan rumput hijau di Bali suatu hari nanti di mana aku bisa merasakan kesejahteraan pikiran dan batin yang menenangkan.”

Impian yang sederhana memang. Tapi tidak terlalu susah bagi Tuhan untuk bisa mewujudkannya. Beberapa hari kemudian, aku mendapat telpon dari teman lamaku. “Cristine, kita memenangkan lomba menulis Natur E dan akan dikirim ke Bali untuk syuting bersama Nadya Hutagalung”. Aku tertegun. “what???” kapan nulisnya? Ternyata temanku diam-diam mengirimkan tulisannya yang berisi tentang aku dan sebagai hadiahnya kita berdua bersama 24 pasang pemenang lainnya se-Nusantara berhak mendapatkan hadiah jalan-jalan ke Bali. Sebuah kebetulan yang tidak perlu dipertanyakan kenapa bisa terjadi karena aku percaya pada kekuatan Law of Attraction, the Secret dan Quantum Ikhlas yang secara fisika akan mampu menjawabnya. Bagi teman-teman yang belum pernah membaca ketiga buku tersebut, perlu kuinformasikan bahwa buku-buku tersebut adalah best seller dan merupakan beberapa dari buku-buku favoritku. Dan di sinilah petualangan itu dimulai.

Perjalanan memang tidak terlalu mulus di awal karena kami sempat stuck selama total hampir 7 jam di bandara Soekarno Hatta dan Jogja (pesawat transit di Jogja). Bertemu dengan 1 pasang pemenang lainnya dari Jakarta, kami mulai akrab karena kami berempat punya persamaan sifat “ tukang ngoceh” sehingga akrablah gank ini dalam waktu kurang dari 1 jam. Kami habiskan waktu di bandara dengan uring-uringan. Istilah kami, sudah mati gaya mau ngapain lagi. Mulai dari lunch dan istirahat di Lounge, sampai narsis-narsisan gaya di depan kamera pocket, trus becanda ga karuan, ngomentarin hal-hal yang ga penting, dan masih banyak lagi.

Singkat cerita, sore sebelum sunset, kami tiba di Bali. Menginap di Hardrock Hotel Bali dan ketika tiba, masih ada sisa setengah jam sebelum matahari masuk ke peraduan. Kami langsung ganti kostum dan setengah berlari, langsung membawa kamera menuju Pantai Kuta. Mengagumi keindahan Tuhan lewat semburat merah yang perlahan-lahan masuk dengan malu-malu di balik awan dan langit Bali.

AKtivitas mulai padat dari pagi jam 6. Kami melakukan yoga tepat di tepi kolam renang di atas Sand Island Hardrock Hotel Bali, dihibur oleh riak air kolam dan ditemani musik yoga yang mengalun tenang. Persis tepat seperti gambaran bayanganku 2 minggu lalu ketika membisikkan impian untuk dapat melakukan yoga di tepi sebuah kolam renang atau hamparan rumput hijau di Bali dalam hati. Sekali lagi Tuhan sungguh hebat. Ketika melakukan meditasi di akhir sesi yoga tersebut, aku menghirup nafas dalam-dalam, bersyukur kepada Sang Pencipta yang telah membawaku ke sini, tepat seperti apa yang aku inginkan. Kubisikkan ucapan terima kasihku dalam hati dan kunikmati ketenangan yang melingkupi seluruh pikiran dan batinku.

Aku begitu menikmati yoga ini selama 2 hari berturut-turut dan tidak percuma rasanya punya hobi yang menyehatkan raga. Karena ternyata panitia memberikan hadiah kepada peserta yoga yang paling lentur gerakannya. Dan aku memenangkan kategori ini. Jadilah aku difoto bersama Nadya Hutagalung dan fotonya dicetak 10R, ditandatangani sang bintang jelita dan dibingkai dalam pigura nan indah menawan. Foto berpigura itu terpajang anggun di atas meja riasku.

Hari-hari kami sangat menyenangkan. Wanita-wanita Indonesia ternyata sangat luar biasa. Di malam gala dinner ketika semua pasangan yang berbalut gaun malam berwarna hijau harus menunjukkan kebolehan mereka di atas panggung yang sudah diset dengan demikian anggun, aku menyadari bahwa hidup ini memang sebuah panggung pertunjukan. Panggung itu milik kita dan kitalah yang melakoninya. Akan menjadi seperti apa lakon itu, sangat tergantung pada diri kita. Mas Alexander Sriwiyono berpesan di sesi siang dalam kelas pengembangan kepribadian, bahwa the stage is ours and after that night, the stage is not over yet… Our life is the real stage…Malam yang mengesankan… Hampir tidak dipercaya, ketika orang yang tampaknya biasa-biasa saja, ketika berada di atas panggung dan memainkan lakonnya, mereka semua menjadi begitu luar biasa., memiliki kepercayaan diri yang tinggi meskipun saya tahu semua orang deg-degan ketika menjejakkan langkah pertama di atas panggung. Tapi ketika kita semua menjadi apa adanya kita, semua mengalir dan mengalir dan jadilah satu karya yang begitu memukau. Indah karena begitu orisinil dan tidak ada satupun orang yang bisa menyamainya.

Petualangan berakhir dengan kembalinya semua peserta ke kota mereka masing-masing setelah menghabiskan waktu bersama 4 hari 3 malam yang berarti adalah dimulainya kembali episode baru dalam kehidupan nyata kami.

Tags:

3 Responses to “Weekend bersama Natur E dan Nadya Hutagalung”

  1. myandrew Says:

    hai tin, seru banget nih liburan gratis..hehe..btw, si nadya kok endut ya..apa lg hamil ya?? *penasaran*

  2. Jeff Says:

    Yoga lagi “in” ya?? :)
    relaksasi is good for ur packed days dee… :D

  3. T Nugroho Says:

    he he he he ……….. lo hebat en seperti hidup dalam hidup . . .

    salam dari Lagos

Leave a Reply